Metode Pembelajaran

Tantangan dan Pengembangan Dakwah di Era Globalisasi

A.    Pengertian Dakwah
Para ahli mengartikan dakwah pada umunya membagi atas dua kategori, yakni ditinjau dari segi etimologi (bahasa), dan dari segi terminologi (istilah). Pergertian dakwah menurut bahasa berarti: memanggil, menanamkan, mengundang, meyeru, mengajak, mendoakan yang terkandung di dalamnya artinya menyampaikan sesuatu kepada orang lain untuk mencapai tujuan tertentu, kata dakwah berbentuk isim masdar. Kata ini berasal dari fi’il (kata kerja) “da’a-yad’u”, artinya memanggil, mengajak, menyeru, mengajak atau mendorong ke suatu tujuan.

Pengertian dakwah menurut istlah menurut Toha Yahya Oemar adalah dapat ditinjau secara umum dan secara khusus. Pengertian secara umum adlah suatu ilmu pengetehuan yang berisikan cara-cara, tuntutan, bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia untuk menyutujui, melaksanakan suatu ideologi, pendapat dan pekerjaan tertentu.

Selengkapnya...........

Pluralisme Agama

A.    Konsep Dasar Pluralisme Agama

Kata “pluralisme agama” berasal dari dua kata, yaitu “pluralisme” dan “agama” dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan “al-ta’ddudiyah” dan dalam bahsa Inggris “religius pluralism”. Dalam bahasa Belanda, merupakan gabungan dari kata plural dan isme. Kata “plural” diartikan dengan menunjukkan lebih dari satu. Sedangkan “isme” diartikan dengan sesuatu yang berhubungan dengan paham atau aliran. Dalam bahasa Inggris disebut pluralism yang berasal dari kata “plural” yang berarti lebih dari satu atau banyak. Dalam Kamus The Contemporary Engglish-Indonesia Dictionary, kata “plural” diartikan dengan lebih dari satu/jamak dan berkenaan dengan keanekaragaman. Jadi pluralisme, adalah paham atau sikap terhadap keadaan majemuk, baik dalam konteks sosial, budaya, politik, maupun agama. Sedangkan kata “agama” dalam agama Islam diistilahkan dengan “din” secara bahasa berarti tunduk, patuh, taat, jalan. Pluralisme agama adalah kondisi hidup bersama antarpenganut agama yang berbeda-beda dalam satu komonitas dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik ajaran masing-masing agama.

Selengkapnya............

Guru Ideal dalam Pandangan Islam

PEMBAHASAN
A.    Nabi Muhammad Sebagai Sosok Guru Ideal
Dalam konteks pendidikan Islam, guru dikenal dengan pendidik yang merupakan terjemahan dari berbagai kata yakni murabbi, mu’allim dan mua’did.Ketiga istilah guru itu, mempunyai makna yang berbeda, sesuai dengan konteks kalimat, walaupun dalam konteks tertentu mempunyai kesamaan makna.
Kata murabbi misalnya, sering dijumpai dalam kalimat yang orientasinya lebih mengarah kepada pemeliharaan , baik yang bersifat jasmani atau rohani, pemeliharaan seperti ini terlihat dalam proses orang tua membesarkan anaknya, mereka tentunya berusaha memberikan pelayanan secara penuh agar anaknya tumbuh dengan fisik yang sehat dan kepribadian serta ahlak yang terpuji.

Sedangkan untuk istilah mu’allim, pada umumnya dipakai dalam membicarakan aktivitas yang lebih terfokus pada pemberian atau pemindahan ilmu pengetahuan dari seseorang yang tahu kepada seseorang yang tidak tahu.Adapaun istilah mua’did lebih luas dari istilah mua’llim dan lebih relevan dengan konsep pendidikan Islam.

Selengkapnya............